BAB 4 Prinsip Pembelajaran di Sekolah Dasar

A. Pembelajaran di Sekolah Dasar
     Bagi peserta didik, belajar merupakan sebuah interaksi antar berbagai potensi diri siswa (fisik, non fisik, emosi dan intelektual), interasi siswa dengan guru, siswa dengan siswa lainnya sera lingkungan dengan konsep dan fakta interaksi dari berbagai stimulus dengan respons terarah untuk melahirkan perubahan.
     Untuk mengembangkan potensi siwa perlu diterapkan sebuah model pembelajaran inovatif dan konstruktif. Dalam mempersiapkan pembelajaran para pendidik harus memahami karakteristik materi pelajaran, karaktristik peserta didik serta memahami metodologi pembelajaran sehingga proses pembelajaran akan lebih variatif, inovatif dan konstruktif dalam merekonstruksi wawasan pengetahuan dan implementasinya sehingga akan meningkatkan aktivitas dan kreatifitas peserta didik.
B. Prinsip-Prinsip di Sekolah Dasar
    Beberapa prinsip pembelajaran dapat diuraikan secara singkat, sebagai berikut :
1. Prinsip motivasi, adalah upaya guru untuk menumbuhkan dorongan belajar baik dari dalam diri anak atau dari luar sehingga anak belajar seoptimal mungkin sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
2. Prinsip latar belakang, adalah upaya guru dalam proses belajar mengajar memerhatikan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang telah dimiliki anak agar tidak terjadi pengulangan.
3. Prinsip pemusatan perhatian, adalah usaha dengan jalan mengajukan masalah yang hendak dipecahkan untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai.
4. Prinsip keterpaduan, dimna dalam menyampaikan materi hendaknya mengaitkan suatu pokok bahasan dengan bahasan lain anak anak mendapat gambaran keterpaduan dalam proses perolehan hasil belajar.
5. Prinsip pemecahan masalah, adalah situasi belajar yang dihadapkan pada masalah-masalah.
6. Prinsip menemukan, adalah kegiatan menggali potensi yang dimiliki anak untuk mencari, mengembangkan hasil perolehannya dalam bentuk fakta dan informasi.
7. Prinsip belajar sambil bekerja, adalah suatu kegitan yang dilakukan berdasarkan pengalaman untuk mengembangkan dan memperoleh pengalaman baru.
8. Prinsip belajar sambil bermain, adalah kegiatan yang dapat menimbulkan suasana menyenangkan bagi siswa dalam belajar.
9. Prinsip perbedaan individu, adalah upaya guru dalam memperhatikan perbedaan individu dri tingkat kecerdasan, sifat dan kebiasaan atau latar belakang keluarganya.
10. rinsip hubungan sosial, adalah sosialisasi pada masa anak yang sedang tumbuh yang banyak dipengaruhi oleh lingkungan sosial.
C. Tujuan Pembelajaran di Sekolah Dasar
     Pendidikan di Sekolah Dasar bertujuan memberikan bekal kemampuan dasar baca, tulis hitung, pengetahuan dan keterampilan dasar yang bermanfaat bagi siswa seusai dengan tingkat perkembangan serta mempersiapkan mereka untuk mengikuti pendidikan di SMP. Terkait dengna tujuan memberikan bekal kemampuan dasar tulis, maka peran pendidikan mampu memberikan bekal pada kemampuan dasar baca tulis mulai pada tahap keterwacanaan (dikelas-kelas awal) sampai pada tecapainya kemahirwacanaan (dikelas-kelas tinggi).
D. Peran Guru dalam Pembelajaran
    Guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan merupakn pihak yang sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran. Kepiawaian dan kewibawaan guru sangat menentukan kelangsungan proses belajar dikelas maupun efeknya diluar kelas. Guru harus pandai membawa siswanya kepada tujuan yang hendak dicapai.
E. Pembelajaran Terpadu
Tim pengembangan PGSD (1997) menegmukakan bahwa pembelajaran terpadu dikembangkan dengan landasan pemikiran, sebagai berikut :
1. Progresivisme, aliran ini menyatakan bahwa pembelajaran seharusnya berlangsung secara alami, tidak artifisal.
2. Konstruktivisme, aliran ini menyatakan bahwa pengetahuan dikontruksi sendiri oleh individu dan pengalaman kunci utama dari belajar.
3. Landasan normative, aliran ini menghendaki gambaran ideal yang ingin dicapai oleh tujuan-tujuan pembelajaran.
4. Landasan praktis, aliran ini mengharapkan bahwa pembelajaran terpadu dilaksanakan dengan memerhatikan situasi dan kondisi.
5. Developmentally Appropriate Practice (DAP), yaitu prinsip yang menyatakan bahwa pemmbelajaran harus disesuaikan dengan pembelajaran usia dan individu yang meliputi perkembangan kognitif,emosi, minat, dan bakat siswa.
F. Pengembangan Kreativitas
    Torrance (1969),menggambarkan ada empat komponen kreativitas yang dapat diakses, yaitu :
1. Kelancaran (fluency), yaitu kemampuan untuk menghasilkan sejumlah ide.
2. Keluwesan dan fleksibilitas (flexibility), yaitu kemampuan menghasilkan ide ide beragam.
3. Kerincian atau elaborasi (elaboration), yaitu kemampuan mengembangkan ,membumbui,atau mengeluarkan sebuah ide.
4. Orisinalitas (originality), yaitu kemampuan untuk menghasilkan ide yang tak biasa di antara kebanyakan atau jarang.
Adapun menurut rumusan yang dikeluarkan oleh Diknas (2007),bahwa indikator siswa yang memiliki kreativitas, yaitu:
1.Memiliki rasa ingin tahu yang besar.
2.Sering mengajukan pertanyaan yang berbobot.
3.Memberikan banyak gagasan dan usul terhadap suatu masalah.
4.Mampu menyatakan pendapat secara spontan dan tidak malu malu.
5.Mempunyai dan menghargai rasa keindahan.
6.Mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya,tidak terpengaruh orang lain.
7.Memiliki rasa humor tinggi.
8.Mempunyai daya imajinasi yang kuat.
9.Mampu mengajukan pemikiran,gagasan pemecahan masalah yang berbeda dari orang lain (orisinal).
10.Dapat bekerja sendiri.
11.Senang mencoba hal-hal baru .
12.Mampu mengembangkan atau memerinci suatu gagasan (kemampuan elaborasi)
G. Sikap Kreatif
  Banyak teori yang membahasa tentang pembentukkan sikap atau pribadi kreatif, diantaranya :
1. Teori psikoanalisis menjelaskan proses kreatif dari mekanisme pertahanan yang merupakan upaya tak sadar untuk menghindari kesadaran mengenai ide-ide yang tidak menyenangkan atau tidak dapat diterima.
2. Teori humanistik
Teori ini melihat kreatifitas sebagi hasil dari kesehatan psikologi tinggi. Kreativitas dapat berkembang hidup dan tidak terbatas pada lima tahun pertama.
H. Berfikir Kreatif
     Ennis (1981) menginfestasikan dalam lima kelompok keterampilan berfikir yakni :
1. Memberikan penjelasan sederhana
2. Membangun keterampilan dasar
3. Menyimpulkan
4. Memberikan penjelasan lanjut
5. Mengatur strategi dan taktik
Berfikir kreatif juga dapat menumbuhkan ketekunan, disiplin dan berlatih penuh yang doidalamnya terdapat :
1. Mengajukan pertanyaan
2. Mempertimbangkan informasi baru dan ide yang tidak lazim dengan pemikiran terbuka
3. Membangun keterkaitan
4. Menghubungkan berbagai hal yang bebas
5. Menerapkan imajinasi pada situasi untuk menghasilkan hal yang baru
6. Mendengarkan intuisi
    Berbagai langkah didefinisikan dalam melakukan proses kreatif ada lima tahap yaitu :
1. Stimulus. Untuk dapat berfikir secara kreatif perlu adanya stimulus dari pikiran yang lain.
2. Eksplorasi. Siswa dibantu untuk memerhatikan alternative-alternatif pilihan sebelum membuat suatu keputusa.
Perencanaan.
3. Aktivitas. Proses kreatif dimulai dengan suatu ide atau kumpulan ide.
5. Review. Siswa perlu mengadakan evaluasi meninjau kembali pekerjaan.
I. Berfikir Kritis
   Berfikir kritis adalah suatu kegiatan melalui cara berfikir tentang ide atau gagasan yang berhubungan dengan konsep yang diberikan atau masalah yang dipaparkan. Berfikir kritis juga dapat dipahami sebagai kegiatan menganalisis idea atau gagasan kea rah yang lebih spesifik membedakan secara tajam, memilih, mengidentifikasi, mengkaji dan mengembangkannya kea rah yang lebih sempurna.
J. Penguasaan Materi Pelajaran Oleh Guru
   Materi pelajaran merupakan isi atau bahan yang akan dipelajari oleh siswa harus dipersiapkan dengan baik untuk disampaikan kepada siswa. Syaodih dan Ibrahim dalam Ali (2007 : 02) mengemukakan :
1. Materi pelajaran hendaknya sesuai dengan menunjang tercapainya tujuan intruksional.
2. Materi pelajaran hendaknya sesuai pendidikan perkembangan siswa pada umumnya.
3. Materi pelajaran hendaknya terorganisasi secara sistematik dan berkesinambungan.
4. Materi pelajaran hendaknya mencakup hal-hal yakni bersifat factual dan konseptual.

Komentar