BAB 12 Pembelajaran Agama di Sekolah Dasar

Bab 11 bagian 1

A. HAKIKAT PEMBELAJARAN AGAMA DI SEKOLAH 
    Pendidikan agama secara umum adalah upaya untuk men- jadikan manusia mampu untuk mewujudkan tujuan pencipta- annya. Manusia diciptakan agar mereka mengetahui hakikat Tuhannya, mengesakan, memui nikan ibadah kepada Tulhannya, dan mau menghanıbakan diri dengan menjalankan seluruh perintah dan menjauhi semua larangannya. Tujuan pendidikan agama Islam tersebut dicapai melalui materi-materi yarg dipadatkan ke dalam lima unsur pokok, yaitu: Al-Qur'an, keimanan, akhlak, fikih, dan vimbingan ibadah, serta tarikh atau sejarah yang lebih menekankan pada perkembangan ajaran agama, ilmu pengetahuan, dan kebu- dayaan. Pemberian nateri ini diharapkan dapat memberikan kemampuan-kemampuan dasar yang harus dimiliki lulusan sekolah dasar, yaitu memiliki landasan imen yang benar, yang diukur dengan indikator-indikator:
1. Siswa mampu melaksanakan atau menjalankan kehidupan beribadah. 
2. Siswa mengenal kitab suci sesuai dengan umur anak. 
3. Siswa mampu membiasakan adab sopan santun yang baik sesuai dengan ajaran agama. 
4. Siswa memiliki pemahaman tentang kehidupan para nabi/ rasul terutama masa kecil. 
5. Siswa mengenal cara membaca kitab suci dalam bahasa asli dan memahami pengertian-pengertiannya dalam bagian tertentu. 
B. TUJUAN PEMBELAJARAN AGAMA
   Berdasarkan uraian di atas, setidaknya ada tiga tujuan utama pendidikan atau pembelajaran agama di sekolah dasar, yaitu: mengetahui (knowing), terampil (doing), dan melaksenakan (be- ing). Sebagai contoh dalam pembelajaran agama tentang tema shalat.
 Tujuan pembelajaran shalat, sebagai berikut: 
1. Mengetahui definisi shalat (knowing). Dalam hal ini, murid mengetahui definisi shalat, syarat, dan rukun shalat, serta hukum shalat dalam ajaran Islam. Untuk mencapai tujuan ini, guru dan murid dapat memilih metode yang telah banyak tersedia. Metode ceramah dapat digunakan, metode diskusi juga masih mungkin, tanya jawab baik juga, dan seterusnya. Untuk mengetahui apakah murid memang telah
 paham konsep, syarat, dan rukun konsep. 
2. Terampil melaksanakan shalat (doing). Untuk mencapai tujuan ini, metode yang baik kita gunakan ialah metode demonstrasi. Guru mendemonstrasikan shalat untuk memperlihatkan cara shalat. Lantas murid satu demi satu mendemonstrasikan shalat. Guru dapat memutarkan video rekaman shalat dan murid menontonnya. Tatkaia murid diminta mendemonstrasikan, guru telah dapat sekaligus memberikan penilaian. jadi, di sini dilakukan pengajaran Sekaligus penilaian. Bila guru telah yakin seluruh murid telah mampu melaksanakan, maka tujuan aspck doing telan tercapai.
3. Murid melaksanakan shalat dalam kehidupannya sehari-hari (being). Di sinilah bagian yang paling rumit iou. Sebenarnya, kekurangan pendidikan agama di sekolah selama ini hanya terletal: di sini, tidak pada aspek know- ing dan doing. Bagian knowing dan doing telah selesai dan telah mencapai hasil yang sangat bagus karena bagian ini sangat mudah.
C. METODE PEMBELAJARAN AGAMA
  Banyak metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran agama Islam, yang hampir tidak berbeda jauh dengan metode- metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran mata pela- jaran lainnya. Namur: yang lebih spesifik dalam pembelajaran agama Islam menurut Abdurrahman Saleh (1969), me!iputi: metode ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi, sosiodrama, dan pemberian tugas.
   Para pakar pendidikan berbeda pendapat dalam menetap- kan metode dan teknik pembelajaran, termasuk pembelajar- an agama. Menurut Sadali dkk. (1997), metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran agama Islam, yaitu: metode diakronis, sinkronis-analitis, pemecahan masalah, empiris, dan ancka sumber. Metode diakronis adalah suatu metode mengajar agama Islam yang menonjolkan aspek sejarahnya. Metode ini meinberikan kemungkinan kepada peserta didik untuk mengadakan studi perbandingan (komparatif) tentang berbagai hasil penemuan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Peserta didik juga dapat mengadakan studi tentang interaksi antar-ilmu pengetahuan agama dan disiplin ilmu lain, sehingga tampak relevansi, hubung- an seb.b akibat atau kesatuan integralnya. Lebih lanjut, peserta didik juga dapat menelaah sejarah kejadian dan lahirnya setiap bagian, komponen, subsistem, sistem, dan suprasistem agama Islam. Metode ini dapat digunakan untuk mempelajari agama sebagai pengetahuan (aspek kɔgnitif). Metode ini berguna pula untuk mengetahui kecenderungan perkemb angan agama Islam dari masa ke masa sampai sekarang yang dapat memberikan bimbingan atau ilham bagi pemikiran keagamaan di masa yang akan datang. Metode diakronis tidak hanya merupakan metode belajar mengajar agama dari segi kronologi waktunya. Metoue diakronik juga merupakan satu metode yang dapat memban- dingkan berbagai pendapat para ahli dari masa ke masa sesuai deagan kondisi dan situasi perkembangan zaman. Metode sinkronis-analitis adalah sebuah metode perdidik- an agama Islam yang memberi kemampuan analisis teoretis yang sangat berguna hagi perkembangan keimanan, mental intelek. Metode ini tidak semata-mata mengutamal:an segi pelaksanaan atau aplikasi praktis. Contoh mengenai hal ini sebagaimana terdapat di dalam mengajarkan ilmu mantig atau logic. Teknik-teknik mengajar agama Islam yang berdasarkan pada metode ini, yaitu: teknik diskusi, seminar, lokakarya, kerja kelompok, resensi buku, dan penulisan kertas semester. Metode sinkronis-analitis merupakan metode yang paling banyak cipəkai karena relatif meringankan. Metode ini memiliki kelenahan yaitu kurang memberikan kesempatan untuk mengaplikasikan teori-teori yang dipelajarinya. Metode pemecahan masalah merupakan latihan untuk para peserta didik dengan menghndapkannya pada berbagai masalah suatu cabang ilmu dengan alternatif pemecahannya. Latihan ini dapat dilakukan di kelas dengan berbagai teknik, antara lain teknik simulasi, micro teaching, dan analisis kritis atau dilakukan secara laboratoris dengan melakukan berbagai macam percobaan. Metode ini membutuhkan semacam work- book yang sudah disiapkan, yang merupakan latihan tes dengan kunci jawabannya yang sedapat mungkin disusun dalaın buku terpisah. Kelemahan metode ini ialah perkembangan berpikir peserta didiknya mungkin hanya ada dalam suatu kerangka yang sudah tetap dan akhirnya bersifat mekanistis. Metode ini merupakan cara penguasaan keteranipilan daripada pengem- bangan mental intelek. Metode empiris ialah suatu cara mengajar yang memung- kinkan peserta didik untuk mempeiajari ilmu agama melalui proses realisasi dan aktualisasi tentang norma-norma dan kaidah agama melalui suatu proses aplikasi yang menimbulkan suatu reaksı sosial. Proses interaksi kemudian secara deskriptif dapat dirumuskan dalam suatu sistem norma baru (pembaruan). Proses ini selanjutnya berjalan dalam suatu putaran yang radiusnya makin lama makin berkembang. Keuntungan metode empiris adalal, bahwa seorang peserta didik tidak hanya mungkin untuk memahami atau mengembangkan suatu cabang ilmu secara teoretis normatif, tetapi juga memberi kesempatan kepadanya suatu pengembangan yang deskriptif inovatif beserta aplikasirıya dalam keadaan sosial yang nyata.


Buku Sumber : Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar, Karangan : Dr. Ahmad Susanto, M. Pd

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BAB 4 Prinsip Pembelajaran di Sekolah Dasar